Alasan #2 Wanita Sulit Mendapatkan Pria Berkualitas


Banyak sekali wanita-wanita cantik, menarik, smart, dengan karir yang mapan, yang sepertinya bisa mendapatkan pria mana saja yang mereka inginkan, namun ternyata hingga usia mereka menyentuh 30-an, tetap saja single atau terus berganti-ganti pasangan. Mereka kesulitan menemukan pangeran berkuda putih yang akan meminang mereka dan hidup bahagia selamanya. Their fairy tales don’t seem to have happy endings.

Setelah membaca Alasan #1 Mengapa Wanita Sulit Mendapatkan Pria Berkualitas, apakah Anda jadi dapat melihat dengan semakin jelas fenomena seperti itu terjadi di sekitar Anda? Berapa banyak wanita yang Anda lihat mengalami hal tersebut?

Baru beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan seorang sahabat wanita dan dia mengeluh betapa susahnya menemukan pria berkualitas yang memenuhi kriteria yang diinginkannya. Linda adalah seorang wanita yang sangat menarik, sangat fashionable, sangat pintar, dan berprofesi sebagai Head Coordinator dari sebuah event organizer yang sudah cukup terkenal. Dia akan berulang tahun yang ke-30 bulan April nanti.

Saya bertanya padanya, seperti apa sih pria yang diinginkannya? Dan jawabannya, meski sudah dapat saya tebak, tetap saja membuat saya menahan tawa, dia bilang, “Gue mau cowok yang tinggi, sporty, atletis, mapan, mampu menghidupi keluarga, setia, pengertian, smart dan bisa berkomunikasi dengan baik, sensitif, romantis, dan suka dengan hal-hal yang gue suka.”

Dan saya merespon, “Loe nyadar gak, kalo loe sedang menggambarkan Michael Jordan?”

“Gak lahhh.. cowok seperti itu ada kok! Cuma memang susah aja dicari!”

Yah, mungkin memang ada, tapi Linda telah mencari pria seperti itu selama hampir 30 tahun dan hasilnya nol besar. Mungkin dia kurang usaha dalam mencari, atau mungkin memang pria seperti bayangannya tersebut hanya ada dalam film Hollywood saja.

Padahal, kalau saya perhatikan, pria-pria yang pernah menjadi pacarnya atau yang selalu mendekatinya cukup memiliki semua kriteria yang disebutkannya di atas, yah mungkin memang kurang 2 atau 3 poin lah. Tapi Linda hanya menginginkan pria yang sempurna, dia tidak mau yang kurang dari itu.

Dan saya jadi teringat cerita yang lain.

Nina, seorang hairstylist yang sukses berusia 26 tahun, imut, supel, dan memiliki segudang fans yang selalu mencoba mendapatkan hatinya, kira-kira 2 minggu yang lalu menangis berlinangan air mata di mobil saya sepulang makan malam bersama. Dia baru saja diputuskan oleh pacarnya. Mantan pacarnya adalah seorang pria bertubuh tinggi, ganteng, kaya raya dan sangat suka clubbing, bahkan Nina pun pertama kali berkenalan dengannya di tempat clubbing, kira-kira setengah tahun yang lalu.

Si pria meninggalkannya begitu saja, setelah Nina memberikan seluruh tubuh dan hatinya. Ia tidak berniat untuk melanjutkan hubungan lebih serius, karena tidak ingin kehilangan kebebasannya.

Di sela-sela tangisannya, saya bilang, “Yah memang bukan salah loe sih, tapi next time, kalo ketemu cowok diliat-liat dulu orangnya. Ketemunya aja di tempat clubbing.. harusnya dah tau dong bakal begini..”

“Gue pikir setelah sama gue, dia bisa berenti clubbing dan maen cewek. Gue pikir dia bisa berubah. Dia baik banget sama gue, Kei.. dia kasih semua yang gue mau, bahkan yang gak pernah gue minta. Dia malah pernah ajak gue ngeliat pabriknya di Malang..”, isak Nina.

Dan saya hanya bisa diam dan menunggunya sampai selesai menangis.

Kisah Linda dan Nina mungkin sepertinya tidak berhubungan, tapi apabila Anda menganalisa lebih jauh ada satu persamaan dari kisah mereka. Persamaan yang juga dimiliki oleh banyak kisah yang dialami oleh wanita-wanita di sekitar kita.

Their fairy tales don’t seem to have  happy endings, simply because life’s not a fairy tale. Dan itu adalah alasan #2 mengapa wanita sulit mendapatkan pria berkualitas.

Ekpektasi yang tidak realistis.

Akibat dongeng-dongeng tentang pangeran dan tuan putri yang jatuh cinta dan hidup bahagia happily ever after, yang didapat sejak kecil lewat film-film Walt Disney dan buku-buku yang dibacanya, sejak kecil wanita hidup dalam fantasi akan sebuah kisah percintaan yang romantis dengan pria yang sempurna.

Setelah remaja dan beranjak dewasa, dongeng-dongeng  serupa seolah-olah menjadi nyata karena disajikan dengan setting yang modern, urban dan situasi sehari-hari, lewat majalah-majalah wanita, novel-novel percintaan, dan film-film Hollywood seperti Sex and the City. Sewaktu kecil, setiap wanita bermimpi menjadi Cinderella, namun ketika dewasa mereka bermimpi menjadi Carrie Bradshaw dan ketiga sahabatnya.

Apalagi semenjak booming sinetron di stasiun-stasiun televisi lokal dalam 2 dekade belakangan ini, baik anak kecil maupun wanita dewasa menjadi begitu terbiasa dengan kisah percintaan yang tidak realistis.

Misalnya saja, kisah tentang pembantu yang dicintai oleh majikannya yang ganteng, kaya raya, dan baik hati namun dihadang oleh sang ibu yang licik dan jahat, setelah berlinang air mata dan penuh pengorbanan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Mirip sekali dengan dongeng-dongeng karangan H.C. Andersen, bedanya hanya terletak pada setting Jakarta modern, bukan Eropa jaman pertengahan.

Apalagi ditambah dengan mendengar kisah-kisah cinta yang sepertinya selalu terdengar sempurna dari teman-teman mereka, para wanita jadi ingin memiliki kisah seperti itu juga. Meskipun pada akhirnya toh teman-teman mereka juga tetap single dan tak kunjung menikah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: